Hasprabu
Kota Depok Jawa Barat
www.hasprabu.blogspot.com
Jumat
06 Agustus 2010 | 06:26:00 WIB
Saya senang membuka website Pemkab Pasaman Barat. Semoga potensi yang ada dapat dioptimalkan untuk mendukung kemajuan daerah. Satu hal yang perlu ditambahkan dan diingat generasi baru, Pasaman Barat adalah lokasi kembalinya Repatrian Suriname (1954) dan berkembang pesat berkat dukungan warga baru melalui program transmigrasi; seperti halnya Darmasraya dan lain-lain. Karena itu, sinergitas antara kaum muhajirin (warga lokal) dan anshor (pendatang); seperti pernah terjadi dimasa Nabi Muhammad di Madinah; menjadi sumber potensi kemajuan Pasaman Barat dimasa mendatang.. Karena itu, terus lestarikan sinergitas mutualistik ini.. Sukses selalu Hasprabu 
Terima Kasih Atas Attensinya, Kami Akan Berusaha Sebaik Mungkin.
PATRI
Jakarta
www.nakertrans.go.id/microsite/patri
Jumat
06 Agustus 2010 | 06:46:00 WIB
TONGAR Riwayatmu Kini Lima puluh empat tahun yang lalu, tepatnya tanggal 5 Pebruari 1954, telah terjadi sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah pembangunan kolonisasi / transmigrasi, sekaligus sebuah cermin tentang kecintaan rakyatnya terhadap tanah air Indonesia, yaitu peristiwa kembalinya 1.018 orang anak keturunan Indonesia dari Suriname, yang pada waktu itu Suriname masih menjadi wilayah jajahan Kerajaan Belanda. Banyak diantara mereka yang meneteskan air mata, bahkan sambil mencium bumi dimana mereka berpijak, ketika mereka kembali menginjakkan kakinya di tanah air tercinta, Indonesia. Mereka, yang dikenal pula dengan sebutan Repatrian Asal Suriname, menempuh perjalanan Suriname Ė Indonesia dengan kapal laut, dan mendarat di Padang Sumatera Barat, untuk selanjutnya akan ditempatkan di suatu lokasi yang disiapkan oleh Pemerintah, dalam hal ini oleh Wakil Presiden M. Hatta, yaitu di Dusun Tongar Sumatera Barat. Mereka terdiri atas 316 KK atau 1.018 orang dengan rincian: a. 368 orang dewasa yang lahir di Hindia Belanda (sebelum di kirim ke Suriname); b. 247 orang dewasa yang lahir di Suriname; c. 399 orang remaja dan anak-anak yang lahir di Suriname; d. 4 (empat) orang bayi yang lahir dalam perjalanan laut dari Suriname ke Indonesia. Pada waktu mereka masih di Suriname, beredar khabar bahwa Pemerintah Indonesia akan menyediakan tanah seluas 2.500 Ha dan akan dibagi-bagikan kepada para Repatrian Asal Suriname. Setiap KK akan memperoleh tanah 5 Ha. dengan rincian, 20 x 40 m2 untuk pekarangan tempat tinggal dan sisanya untuk tanah garapan. Selanjutnya, dengan dikoordinir oleh Yayasan Tanah Air (YTA), mereka membayar sendiri biaya pulang ke Indonesia. Namun, kenyataannya setelah mereka tiba di Dusun Tongar Sumatera Barat, mereka ditampung di rumah panjang (bedeng) yang terbuat dari anyaman bambu dan disekat menjadi ruangan-ruangan ukuran 3 x 3 m2. Setiap KK, seberapapun jumlah anggota keluarganya, memperoleh 1 ruangan itu. Karena kondisi yang tidak nyaman itu, ditambah lagi dengan keadaan Dusun Tongar yang masih hutan lebat. diwaktu malam babi hutan (celeng) dan harimau kadang-kadang masih berkeliaran. Letak pasar, yang menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari, berada di kota kecil Simpang Empat, berjarak 5 km dari Dusun Tongar dan ditempuh dengan berjalan kaki. Lapangan pekerjaan bagi mereka yang mempunyai ketrampilan tertentu tidak ada, utamanya bagi mereka yang yang umumnya terampil berbahasa Belanda dan Jawa serta sedikit berbahasa Inggeris dan belum bisa berbahasa Indonesia. Akhirnya, banyak di antara mereka yang terpaksa meninggalkan Dusun Tongar, yaitu pergi ke Pekanbaru, Medan, Jambi, Padang, Palembang dan ada juga yang ke Jawa menemui sanak familinya. Kegelisahan untuk meninggalkan lokasi ini semakin parah ketika pada tahun 1958 s/d 1960 terjadi perang PRRI/Permesta. Sekarang ini, 54 tahun kemudian, mereka yang masih menetap di Dusun Tongar adalah para manula dengan usia diatas 65 tahun, ditambah dengan beberapa orang anak dan cucu mereka. Mereka ini adalah 34 orang pelaku sejarah Repatrian Asal Suriname yang masih hidup dan tetap bertahan di Dusun Tongar. Kehidupan mereka memprihatinkan, karena hanya mengandalkan penghidupan dari tanaman pekarangan, ada pula yang sambil berjualan makanan (pecel), buka warung seadanya, dan sisanya menganggur menjadi tanggungan anak-cucunya. Keadaan infrastruktur di Dusun Tongar sekarang ini memang sudah banyak berubah, listrik PLN sudah masuk sehingga siaran TV sudah bisa ditonton. Jalan utama sudah diaspal dan jalan-jalan lainnya terbuat dari batu yang diperkeras, meskipun saat ini sudah mulai rusak. Air PDAM belum masuk, kebutuhan air minum diperoleh dari air sumur yang keadaannya bersih dan bagus. Telepon kabel belum masuk, alat komunikasi bagi yang ekonominya agak mampu hanya hand phone, walaupun signalnya kadang-kadang hilang. Sarana transportasi yang banyak digunakan masyarakat adalah "ojek", melayani Simpang Tongar masuk ke wilayah Tongar maupun ke jurusan pasar Simpang Empat. Rumah tempat tinggal "model" yang lama, ada yang masih digunakan. Kondisi perekonomian masyarakat Dusun Tongar kurang menggembirakan, ditandai oleh hampir tidak adanya aktivitas perdagangan di dalam dusun ini. Pohon kelapa yang ditanam sekitar tahun 1955 batangnya sudah sangat tinggi dengan produktivitas rendah. Di sekitar pekarangan rumah warga, hanya ditanami tanaman pangan semusim (singkong, sayuran, pisang, pepaya), dan tanaman hortikultura yang kurang terawat (sawo, rambutan dan mangga). Situasi di luar Dusun Tongar, atau wilayah sesudah "Jembatan Hatta" menghutan, dan sekarang sudah ditanami kelapa sawit oleh PT Tunas Rimba (TR). Berbeda dengan warga Transmigran Sidodadi, yang penempatannya menyusul kemudian di dusun Juranggo, wilayah sesudah jembatan dekat kuburan, kondisi perekonomiannya lebih baik. Karena mereka berusia relatif lebih muda dan masih produktif, serta lebih mudah beradaftasi dengan lingkungan sekitar. Mereka dan anak-anaknya tetap tinggal di Tongar dan boleh dikatakan tidak ada yang "keluar" Tongar. Alasan lain karena di kota kecil Simpang Empat, yang sekarang sudah menjadi Kota Pasaman Baru, Ibukota Kabupaten Pasaman Barat, sudah ada SMA bahkan sudah ada Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Secara keseluruhan, masa depan wilayah Pasaman Baru dan sekitarnya termasuk Dusun Tongar yang hanya berjarak 4 km dari Ibukota Kabupaten ini cukup menjanjikan. Harga tanah di Pasaman Baru sudah mencapai Rp. 1.500.000,- per m2. Berimbas pada harga tanah di Dusun Tongar dan sekitarnya yang melompat naik, baik tanah untuk tempat tinggal, usaha perdagangan, ataupun untuk persawahan sudah tergolong mahal, sehingga tidak terbeli oleh mereka yang masih ingin tinggal di Tongar. Menurut penjelasan para orangtua pelaku sejarah Yayasan Tanah Air (YTA) yang sampai sekarang masih tinggal di Dusun Tongar, sebetulnya wilayah sesudah Jembatan Hatta dan sesudah Dusun Juranggo, dahulunya diperuntukan bagi YTA. Mengakhiri tulisan ini, terdapat pesan moral bagi bangsa Indonesia, bahwa masih terdapat 34 orang pelaku Repatrian Asal Suriname yang masih hidup dan menetap di desa Tongar. Mereka tergolong manula, dengan kehidupan yang memprihatinkan. Padahal, mereka dapat digolongkan sebagai pencinta tanah air, karena mereka memilih pulang ke tanah air daripada menjadi warga negara Belanda atau kemudian menjadi warga negara Suriname setelah wilayah jajahan ini merdeka tahun 1975. Di samping itu, mereka adalah orang-orang yang setia menetap di Desa Tongar. Oleh karena itu, sangatlah mulia apabila jajaran transmigrasi dapat memberikan perhatian kepada mereka, yang merupakan para pejuang dan pencinta tanah air, sekaligus sebagai pelaku setia program transmigrasi / kolonisasi. Pesan moral lainnya adalah masih terdapat harapan besar dari para Repatrian Asal Suriname yang masih menetap di Dusun Tongar, kiranya Pemerintah Daerah dapat membantu menyelesaikan masalah pertanahan yang pernah dicadangkan tetapi belum dibagikan kepada mereka, malahan saat ini dikuasai perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Tunas Rimba (TR). (Sumber: DPP Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia).
baim adrian
jakarta selatan
baim_adrian@yahoo.com
Jumat
20 Agustus 2010 | 02:40:00 WIB
sebagai putra daerah yang berada di perantauan saya bangga dengan pasbar 
 
Wuri ramadayani,A.Md
Payakumbuh
Pasamanbaratkab.go.id
Minggu
14 November 2010 | 17:18:00 WIB
website nya ok banget...tapi klaw bsa mohon d tambahi informasi dan potensi pariwisata yang ada di Kab.Pasaman Barat. 
 
Winda Harnesta.SP
Simpang Empat
pasamanbaratkab.go.id
Minggu
14 November 2010 | 17:18:00 WIB
Ok banget,.deh website pasaman barat,.tapi munculkan foto foto seluruh karyawannya dong,.apalagi karyawan bagian PDE,.thanks 
 

Isi Buku Tamu

Nama Lengkap
Alamat/Kota
Pekerjaan
E-mail
URL Website/Blog
Isi Buku Tamu
Nilai