Rumah Gadang Tuanku Bosa

Rumah Gadang ini dibangun setelah 55 tahun Nagari Talu tidak memiliki rumah gadang, sebab rumah gadang yang lama sudah dirobohkan pada 1954 akibat sudah lapuk. Rumah Gadang lama dibangun pada abad ke-XVII. Saat itu, kontruksi bangunan tidak memiliki paku hanya memakai pasak kayu.

Tuanku Bosa XIV membangun Rumah Gadang Talu untuk membangkitkan kembali semangat untuk mengenal dan menjalankan adat serta pendidikan, khususnya bagi para pemuda. Sementara, Objek wisata alam dan budaya diharapkan dapat menunjang wisata budaya di Pasaman Barat.

Rumah Gadang Tuanku Bosa dibangun di atas tanah seluas 3 hektar. Jumlah tiang rumah gadang sebanyak 25 buah, pembangunan ini sesuai dengan sistem yang dianut di Nagari Talu, yaitu Datuk Katumanggungan, Lareh Nan Bonta, Rumah Gadang berbentuk Gajah Maaram, bagonjong (pucuk), tujuah (tujuh), baanjuang (anjungan) kiri dan kanan mengarah ke Selatan menghadap Gunung Talamau.

Sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Pasaman Barat, Rumah Gadang Tuanku Bosa sangat cocok dikunjungi dalam rangka untuk menambah wawasan kebudayaan serta melihat lebih dekat lagi tentang kearifan lokal etnis Minangkabau di Pasaman Barat yang sangat menarik. Mengenai akses transportasi sendiri, wisatawan hanya memerlukan waktu 50 menit dari pusat ibu kota Pasaman Barat, Simpang Ampek dengan biaya trnsportasi berkisar 20.000 rupiah.

Jika wisatawan luar daerah ingin mengunjungi tempat wisata tersebut, Dapat juga melalui jalur transportasi udara yaitu melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang-Bandara Pusako Anak Nagari (PAN) Pasbar dengan biaya tiket penerbangan sekitar 197.000 rupiah, kemudian ditambah dengan biaya trnasportasi darat dengan menggunakan kendaraan umum berkisar 20.000 rupiah.


Rumah Gadang Tuanku Bosa built in Nagari Talu, District Talamau, West Pasaman, West Sumatra, the official on June 21 to 23, 2012. The house was inaugurated by Daulat Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyuang SM Taufik Thaib.Rumah Gadang Tuanku Bosa has a size of 27 by 10 meters, which is the traditional symbol of greatness. This house can also be used as a traditional meeting place as well as a discussion of the village as well as a place to learn customs, culture, and science. Rumah Gadang Tuanku Bosa was built after 55 years Nagari Talu not have the longhouse, because the house was torn down long sieve in 1954 due to rotted. Old Tower House was built in the XVII century. At that time, the construction of the building does not have spikes only use wooden pegs. Tuanku Bosa XIV build the Tower House Talu to revive the spirit to recognize and run custom and education, especially for the youth. Meanwhile, natural and cultural attractions are expected to support cultural tourism in West Pasaman. Rumah Gadang Tuanku Bosa built on a land area of 3 hectares. The number of poles longhouse as many as 25 pieces, this development in accordance with the system adopted in Nagari Talu, namely Datuk Katumanggungan, lareh Nan Bonta, Tower House Elephant shape Maaram, bagonjong (shoots), seven different (seven), baanjuang (bridge), left and right leads to a south facing Mount Talamau. As one of the cultural tourist destination in West Pasaman, Rumah Gadang Tuanku Bosa very suitable lord visited in order to broaden the cultural as well as a closer look on local wisdom ethnic Minangkabau in West Pasaman very interesting. Regarding access to own transport, tourists only takes 50 minutes from the center of the capital city of West Pasaman, Simpang Ampek with costs ranging from 20,000 Rupiah trnsportasi. If tourists outside the region want to visit the tourist attractions, can also be through the air transportation is through the Minangkabau International Airport (BIM) Padang-service Child Pusako Nagari (PAN) Pasbar the flight ticket cost around 197,000 dollars, then coupled with the transportation cost of land by using public transport ranges from 20,000 rupiah. 

 

Share on:

Komentar



Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar
 



Selasa, 15 November 2016

MAN Kajai Canangkan Program Gerakan Seribu

2016-11-15 00:45:37 Simpang Empat, pasamanbaratkab.go.id Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kajai, Kecamatan Talamau Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) melakukan terobosan baru dalam meningkatkan rasa sosial dan mengikuti tuntunan hidup sehat dan bersih. Hal ini dibuktikan dengan program Gerakan Seribu di Hari Jumat dan Jumat bersih. Benar, sudah dua minggu kita memulai program ini, sedekah pertama terkumpul Rp...

Kamis, 06 Oktober 2016

Ikan Larangan Batang Tian Dibanjiri Pengunjung

2016-10-06 14:17:31 Simpang Empat, pasamanbaratkab.go.id Meski baru satu bulan dibuka, tempat wisata alam ikan larangan Batang Tian yang terletak di Jorong Pasaman Baru, Nagari Lingkuang Aua, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), semakin ramai oleh pengunjung. Betapa tidak, selain banyaknya ikan-ikan jinak yang menghiasi sungai, letaknya juga berada di pusat kota kabupaten dan berada di jalan...