Data Perekonomian BPMP2T

  1.     Kondisi Perekonomian Kabupaten Pasaman Barat

 

Dalam beberapa tahun terakhir ini, pembangunan ekonomi di Kabupaten Pasaman Barat berjalan dengan pesat. Pemekaran wilayah ternyata memberikan peluang bagi daerah untuk merancang pembangunan yang lebih efektif dan efisien. Selain itu potensi sumberdaya alam yang besar mulai dari pertanian, perdagangan, industri, pariwisata dan jasa memberikan value added terhadap pembangunan ekonomi.

Kondisi ini terlihat dengan terus meningkatnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah sepanjang tahun. Peningkatan ini juga mempengaruhi peningkatan pendapatan perkapita masyarakat. Pendapatan perkapita masyarakat meningkat dari Rp. 4.558.597,- pada tahun 2002 menjadi Rp. 5.056.107,- pada tahun 2006. Peningkatan ini menunjukan bahwa tingkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Ini menjadi sebuah indikasi yang baik, dimana secara nasional dan regional perekonomian masih belum stabil sedangkan dalam konteks perekonomian di Kabupaten Pasaman Barat melihatkan indikasi yang berbeda. Pengembangan potensi ekonomi daerah juga mendorong percepatan pembangunan di daerah ini. Sepanjang tahun, geliat roda pembangunan semakin cepat dengan membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan mulai dari Kinali, Simpang Empat, Ujung Gading sampai ke Air Banggis. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi inilah yang mendorong percepatan pembangunan. Ke depan, pergerakan roda pembangunan dan ekonomi diprediksikan semakin besar karena beberapa potensi kekayaan alam yang dimiliki daerah merupakan komuniti ekonomi yang sedang meningkat perdagangannya di tingkat nasional dan international seperti kelapa sawit, jagung, kakao dan beberapa komuniti lainnya.

 

TABEL 2. Beberapa Faktor Perekonomian Daerah Kabupaten Pasaman Barat,

Tahun 2002-2006

No

Keterangan

2002

2003

2004

2005

2006

1

Produk domestik regional brruto ADH Pasar (000.000 Rp)

1.654.873,95

1.753.244,65

1.866.612,80

1.988.702,87

2.115.152,38

2

Penyusutan barang modal

273.905,21

307.414,77

332.736,06

350.103,40

383.222,78

3

Produk domestik regional neto ADH Pasar

1.380.968,74

1.445.829,88

1.533.876,74

1.638.599,47

1.731.929,60

4

Pajak tidak langsung neto

33.538,73

38.065,01

45.449,41

50.513,74

57.245,77

5

Produk domestik regional brruto Atas Biaya Faktor (000.000 Rp)

1.347.430,01

1.407.764,87

1.488.427,33

1.588.085,73

1.674.683,83

6

Prakiraan jumlah penduduk pertengahan tahun (000 Orang)

295,58

300,04

301,95

324,45

331,22

7

PDRB Per Kapita

5.598.735

5.843.370

6.181.861

6.129.459

6.385.944

8

Pendapatan regional per kapita***)

4.558.597

4.691.924

4.929.383

4.894.701

5.056.107

 

Sumber : Diolah dari Pasaman Barat dalam Angka (2007)

Daya dukung ekonomi juga akan mampu memacu pembangunan terutama di Simpang Empat yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi utama di Kabupaten Pasaman Barat. Dengan kondisi ini, daerah di sekitar Simpang Empat akan semakin cepat roda pembangunan dan memberikan stimulus terhadap percepatan pembangunan daerah. Bila stabilitas ekonomi daerah dapat dibangun dengan baik, potensi beberapa sektor pendukung juga sangat diperlukan untuk memberikan stimulus terhadap pembangunan. Iklim investasi dan dunia bisnis membutuhkan kesiapan infrastruktur yang kuat. Salah satu adalah ketersedian sarana dan prasrana penginapan atau hotel. Sarana ini sangat penting dalam mendukung perekonomian daerah. Selain itu sangat dibutuhkan untuk menciptakan daya dukung dan daya saing terhadap pengembangan investasi daerah di sekitar Kabupaten Pasaman Barat.       

 

2.     Transformasi dan Pertumbuhan Ekonomi

 

Siklus pembangunan menurut teori ekonomi pembangunan terdiri dari tiga tahap pembangunan. Pertama, proses pembangunan dimulai dengan besarnya peranan sektor pertanian terhadap perekonomian daerah. Fase ini merupakan awal dari proses pembangunan di beberapa negara maju. Kedua, siklus pembangunan masuk kepada fase dimana peranan pertanian mulai menurun dan beberapa sektor modern seperti industri, perdagangan dan jasa mulai mengantikan peranan dalam perekonomian. Ketiga, setelah lepas dari proses struktur modern dalam pembangunan, pada fase berikut terjadi pertumbuhan ekonomi yang stabil atau pembangunan masuk kedalam fase maju. Dalam istilah ekomomi, kondisi ini dinamakan transformasi ekonomi.

 

Secara nasional, transformasi di beberapa daerah telah terjadi. Ini terlihat dari makin berkurangnya kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian. Kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Pasaman Barat. Sejak pemekaran daerah, ekonomi di Kabupaten Pasaman Barat mengalami transformasi. Indikator ini dapat dilihat dari tabel 3. Pada tabel 3 menunjukan laju pertumbuhan sektor pertanian mengalami penurunan sedangkan sektor lain yang bersifat sekunder (modern) seperti industri, perdagangan, hotel dan restoran, keuangan dan jasa mengalami pertumbuhan yang terus mengalami peningkatan. Begitu juga kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian tidak lagi dominan dan sedangkan sektor lain terutama industri dan perdagangan, hotel dan restoran meningkat (lihat tabel 3)

 

TABEL 3. Laju Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Pasaman Barat, Tahun 2000-2006

LAPANGAN

USAHA

2000-2006

2002

2003

2004

2005

2006

Pertanian

10,0

11,7

11,5

9,1

10,3

7,3

Pertambangan & Penggalian

4,0

3,1

3,4

4,8

4,9

5,1

Industri Pengolahan

4,2

2,7

3,9

5,0

5,6

5,7

Listrik & Air Minum

5,5

4,9

5,7

6,0

6,2

6,4

Bangunan

4,3

4,9

3,6

3,9

5,0

6,3

Perdagangan, Hotel & Restoran

5,0

3,2

4,4

5,2

7,1

7,1

Angkutan & Komunikasi

4,3

4,6

3,2

4,1

4,4

5,7

Keuangan, persewaan & Jasa Perusahaan

4,3

3,9

4,2

4,7

4,8

5,4

Jasa-jasa

2,6

2,2

2,2

2,8

3,3

3,5

PDRB

5,9

5,4

5,9

6,0

7,1

6,4

 

Sumber : Diolah dari Pasaman Barat dalam Angka (2007)

 

Perkembangan perkonomian tersebut memberikan pengaruh terhadap percepatan pembangunan daerah. Pembangunan dan ekonomi yang didukung oleh sektor sekunder seperti industri pengolahan dan perdagangan, hotel dan restoran merupakan suatu modernisasi dari pembangunan. Pembangunan yang menuju modernisasi membutuhkan daya dukung infrastruktur yang juga bersifat modern. Salah satu adalah ketersedian sarana dan prasarana perhotelan. Sarana ini sangat penting ketika proses modernisasi pembangunan terjadi. Mobilisasi yang tinggi dari perekonomian mempercepat mobilsasi penduduk terutama investor dan stakeholder pembangunan lainnya. Mereka ini sebagian berasal dari luar daerah dan membutuhkan tempat persinggahan. Disinilah peranan hotel berbintang yang lebih kondusif sangat diperlukan untuk mendkung aktivitas mereka. Selain itu event-event bisnis atau pertemuan-pertemuan intraregional atau nasional juga akan semakin sering dilakukan. Dan hotel yang sangat kondusif menjadi sangat penting dalam aktivitas tersebut.

TABEL 4.Kontribusi Lapangan Usaha terhadap Perekonomian di Kabupaten Pasaman Barat,

Tahun 2000-2006

LAPANGAN

USAHA

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Pertanian

25,2

26,6

28,2

29,7

30,6

31,5

31,8

Pertambangan & Penggalian

1,1

1,1

1,0

1,0

1,0

1,0

1,0

Industri Pengolahan

25,2

24,7

24,0

23,6

23,4

23,0

22,9

Listrik & Air Minum

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

Bangunan

3,4

3,4

3,3

3,3

3,2

3,1

3,1

Perdagangan, Hotel & Restoran

27,0

26,6

26,1

25,7

25,5

25,5

25,7

Angkutan & Komunikasi

3,8

3,7

3,7

3,6

3,5

3,5

3,4

Keuangan, persewaan & Jasa Perusahaan

2,1

2,1

2,0

2,0

2,0

1,9

1,9

Jasa-jasa

12,1

11,7

11,4

11,0

10,7

10,3

10,0

TOTAL

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

 

Sumber : Diolah dari Pasaman Barat dalam Angka (2007)

 

3.  Peranan Sub Sektor Perhotelan dalam Perekonomian Daerah

 

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa terjadi pembangunan ekonomi yang tinggi dan transformasi ekonomi yang mengarah pada sektor yang modern. Perubahan ini memberikan stimulus terhadap pembangunan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Dalam kondisi pembangunan ekonomi daerah, pertumbuhan sektor ini terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2000, pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran sekitar 5,0 % dan mengalami peningkatan menjadi 7,1 % pada tahun 2006. Begitu juga peranan terhadap perekonomian daerah mencapai 27,0 % pertahun. Indikasi ini memberikan sebuah analisis bahwa arah pembangunan di Kabupaten Pasaman Barat menuju ke sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sub sektor ini dalam implikasi dilapangan saling mendukung. Kemajuan sub sektor perdagangan akan memberikan stimulus terhadap sub sektor perhotelan. Begitu juga sub sektor restoran juga akan saling mempengaruhi perkembangan sub sektor perhotelan. Bila dilihat dari pertumbuhan sub sektor perhotelan dalam lima tahun terakhir ini menujukan peningkatan. Pada tahun 2002, laju pertumbuhan sub sektor perhotelan sekitar 3,1 % dan mengalami peningkatan mencapai 5,9 % pada tahun 2006. Begitu juga dari peredaran uang di jenis usaha perhotelan juga meningkat, pada tahun 2002 jumlah uang yang beredar sekitar Rp. 293, 43 juta, dan ini mengalami peningkatan pada tahun 2006 mencapai Rp. 383,78 juta. Ini menunjukan bahwa peluang bisnis pada kegiatan perhotelan di Kabupaten Pasaman Barat memiliki prospek yang bagus.

 

Sumber : Diolah dari Pasaman Barat dalam Angka (2007)

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar